BLANTERWISDOM101

ARISAN KARYA Ep. 1: [Cerpen] Mimpi Sang Kyai

Kamis, 10 Agustus 2023
Cerpen Sang Kyai

Mimpi Sang Kiai

Oleh: Bagas Mahardika Purnomo


“Setiap langkah memiliki tujuan. Setiap tujuan memiliki harapan. Lalu setiap pengharapan adalah sebuah keniscayaan. Tinggal bagaimana keputusan pemberi suratan, maka begitulah akhir dari sebuah pengharapan yang telah diusahakan”. Itulah kata-kata Kiai sebelum beberapa orang membawanya.

Beberapa hari yang lalu Kiai berpesan, bahwa dalam mimpinya dia akan dibawa beberapa orang utusan langit. Lalu dia akan dimintai beberapa hal. Dalam mimpi yang diceritakan Kiai, tak begitu jelas apa yang dimintai orang-orang itu. yang jelas mereka meminta sesuatu.

Kiai banyak berpesan kepadaku. Sebelumnya, Kiai memintaku untuk mendoakannya. Mendoakan dirinya agar tak sering lupa. Akhir-akhir ini Kiai sering lupa. Mungkin karena usia yang sudah tak muda. dia sering lupa kalau dia tak punya kuasa atas orang kuasa. Kiai juga mulai sering menyendiri, padahal dia tak suka sendiri. Akan kuceritakan tentang Kiai, sebelum dan sesudah Kiai dibawa pergi.

Hampir malam di sini

Ketika orang-orang langit datang

Orang-orang langit berpakaian rapi. Terlihat membawa sesuatu. Sepertinya berisikan perintah ketua-ketua langit, atau barangkali hanya sekadar surat safa yang diperuntukkan pada Kiai. Aku banyak mendengar bahwa teman-teman Kiai semasa menempuh pendidikan dahulu, banyak duduk di kursi-kursi langit. Mungkin mereka sekadar menyapa. tetapi, mengapa tak melalui POS saja? Atau bila dilihat jamannya, mengapa tak melalui telepon? Beberapa dari orang-orang langit yang datang terlihat tua, sedang yang lain terlihat muda dan berhasrat tinggi untuk hidup di langit.

Mereka dipersilakan masuk dengan baik oleh Mardi, orang kepercayaan Kiai. Tak berapa lama orang-orang langit keluar dengan kekecewaan. Dari penglihatan ku mereka memang kecewa. Seperti ada penolakan.

“Ono opo Di?”

“Ra popo emas. Kui rang langit arep Kiai dukung. Dukung opo yo?Ah, lali aku. Pokoe Kiai nolak.”

“Oh, ngono to.”

Orang-orang langit sering datang kemari. barangkali mereka kemari saat ada urusan-urusan langit, atau karena ada masalah. Kiai selalu memberi solusi dan Kiai juga jadi penengah bila ada masalah antara orang-orang langit dan orang-orang bawah.

Kalau orang langit, Aku sering mendengar permintaan mereka dari teras. Aku sedikit jail menguping pembicaraan orang-orang langit kalau menemui Kiai. dahulu waktu Kiai belum setua ini, Kiai selalu menolak permintaan mereka atau barangkali Kiai hanya mengatakan “Akan aku pikirkan lagi”. 

Tetapi, ya mereka tak pernah menyerah. Mereka selalu datang dan membujuk Kiai. Semua memiliki kepentingan yang sama. “Kursi langit”.

Sebelum Kiai manut dibawa orang-orang langit. Kiai selalu menolak diajak ke langit. Jangankan diajak ke langit. Diminta untuk menjadi jalan orang-orang itu ke langit saja Kiai selalu menolak. Tetapi itu dahulu, waktu Kiai masih kuat ingatannya. Kiai selalu menolak dengan tegas kepada orang-orang yang ingin mengajak Kiai pergi kelangit.

“Jangan campuri urusanku dengan urusanmu. Kita memang harus berdampingan. Tetapi, jangan campur adukkan untuk kepentingan pribadimu sendiri.”

Lawan bicara Kiai kala itu hanya manut kata-kata Kiai. Badan besar, gagah, seperti seorang yang rajin berlatih bela diri, atau terlatih untuk bayak hal mungkin. Kiai tak ingin turut campur dengan hasrat mereka, Kiai juga tak mau larut pada kehidupan yang fana. Kiai hanya ingin menjadi penengah di antara kepentingan kalangan bawah dan kalangan langit, dia tak ingin condong ke salah satunya.

“Aku itu harus bisa menjadi penengah. Tidak condong ke bawah tak pula condong ke langit.” Begitu pesan Kiai kepadaku kala itu.

Tetapi ya itu dahulu, waktu Kiai tak setua ini. Kiai masih berbicara melalui ingatannya yang kuat. Di tambah keberanian Kiai yang luar biasa. Kini Kiai mulai pikun. Beberapa yang Kiai bilang mulai sedikit membingungkan. Ya aku selalu maklum. Kiai tetaplah Kiai, dan aku selalu hormat dan patuh pada Kiai. Seperti yang Kiai mintakan kepadaku, bahwa jangan lupa mendoakan dan barangkali sekadar mengingatkan Kiai kalau lupa.

Kiai mulai sering bertemu dengan orang-orang langit. Apalagi setelah Kiai manut kala temannya dari langit datang langsung menjemputnya kala itu. Kiai mulai pikun. Ya parahnya lagi Kiai mulai tak ingat kalau Kiai sudah pikun. Kiai mulai tersenyum ala-ala orang langit. Namun sesekali. Tak sesering orang langit biasanya. Kiai mulai sering main-main ke langit. Tak jarang Kiai tidak hadir di pertemuan para penengah.

Setelah Kiai sering bertemu orang-orang langit. Kiai mulai banyak peminat. Kiai makin sering kedatangan Tamu dari penjuru langit. Kiai mulai akrab. Dan Kiai makin pikun dengan kepikunannya. Bahkan Kiai lupa dengan teman-teman penegahnya.

“Apa tidak salah yang kamu lakukan?” teman penengah Kiai mengingatkan kala itu.

“Kamu siapa?” Kiai tak mengingat temannya itu.

“Itu teman Kiai di divisi penengah Kiai.” Aku mengingatkan.

“Oh iya. Aku sampai lupa. Tenang saja. Aku tak akan lupa dengan tugasku.”

“Ya, aku hanya mengingatkan. Terlalu sering main kelangit juga tak baik.”

Kiai hanya mengiyakan kata-kata temannya itu. Kiai hanya tertawa kecil ketika temannya pulang. Kiai sebenarnya merasa tersinggung dengan sikap temannya. “Apa aku sebodoh itu? Aku juga orang pintar bukan?”

Aku hanya manut. Karena keduanya tak salah. Malam itu Kiai bercerita tentang mimpinya lagi. Kiai bercerita tentang mimpinya membawa orang-orang bawah main-main ke langit. dia mengatakan semua orang-orang langit merasa senang ketika orang bawah main ke langit. Kiai menceritakan bahwa dia duduk bersama orang-orang langit, dia juga berpakaian seperti orang-orang langit. 

Kiai tertawa kecil ketika menceritakan itu kepadaku. Apalagi ketika Kiai menceritakan tentang senyum orang langit. Kata Kiai mereka tersenyum agak aneh, seperti dibuat-buat. tetapi Kiai juga aneh, mengapa dia tidak curiga dengan senyum yang aneh itu? Namun, aku hanya manut dan tetap khidmat mendengar cerita tentang mimpi Kiai.

Kini Kiai mulai tak asing dengan gaya orang-orang langit. Bahkan sesekali Kiai turut serta memperkenalkan gaya orang-orang langit pada kami. Ya tak seperti dahulu, Kiai yang dahulu menolak turut hanyut dengan kebiasaan langit, mulai lupa dengan dirinya yang dahulu. Kiai tak seperti dahulu, dia mulai sering lupa bahkan sesekali dia selalu lupa. Mulai tak sadarkan diri barangakali. 

Kiai tetap bermain-main dengan orang-orang bawah. tetapi gaya bicara dan isi pembicaraan Kiai mulai tak serupa dahulu. seperti bukan cara bicara Kiai yang dahulu. Kiai makin sering bermain-main ke langit dan ke bawah. Kiai mulai jarang berada di posisi penengah. Kiai mulai meminta orang-orang bawah setuju dengan apa pun yang diinginkan orang-orang langit. sekalipun itu salah.

Kiai makin pikun. Kiai mulai menjadi apa pun. Selama itu urusan langit Kiai akan selalu setuju. Kiai mulai menanggalkan kesukaannya pada kesederhanaan. Kiai mula memakai segala hal tentang langit. Kiai mulai sering marah. Bahkan hal kecil sekalipun.

Kiai makin sering membicakan mimpi-mimpinya. Dan Kiai makin percaya dengan mimpi-mimpinya itu. Kiai mulai tak waspada dengan mimpinya. Ketika itu Kiai menceritakan mimpinya. Kiai mengatakan bahwa dia bermimpi dia sudah tak pikun lagi. Bahkan dalam mimpinya dia sangat ingat apa yang akan dan yang telah dia lakukan. dia sangat yakin bahwa mimpinya itu benar bahwa dia sudah tidak pikun.

Besok Kiai akan pergi ke langit. Malam ini Kiai kembali menceritakan mimpinya kepadaku. Kiai bercerita tentang hal yang tak pernah kubayangkan dan Kiai juga meminta aku turut mendoakan agar mimpinya itu tercapai.

“Aku bermimpi, aku akan menjadi orang langit. Dalam mimpiku itu aku melihat aku menjadi orang penting di langit. Punya segala hal. Dan aku hidup tenang di sana.”

“Maksud Kiai?”

“Ya. aku akan menjadi orang langit. Aku hidup dan mati dilangit. Dan kau harus mendoakan itu terjadi.”

Kiai memang benar-benar pikun. Dan aku juga turut pikun. Aku mengatakan “Aamin.” Bukan “E-ling.”

Yogyakarta, 2022



Tentang Penulis:


Bagas Mahardika Purnomo, S.S. lahir dan berdikari di Medan. Menyelesaikan pendidikan S1 di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Telah menulis berbagai tulisan baik cerpen, puisi, dan essai yang telah diterbitkan di beberapa media massa. Bekerja sebagai guru dan copywriter.

Buku-buku yang telah di tulis antara lain Antologi Puisi Penakluk Kegelapan (2017), Amorfati (2019), dan Cerpen Tiga Waktu Satu Kehidupan (2017), Lantai Dua (2019), dan Kalut Bersahut (2021). Aktif berkomunitas bersama komunitas kepenulisan seperti Komunitas Ruang Sastra, Komunitas Lantai Dua, Anak Medan Cakap Sastra, dan Forum Lingkar Pena Medan. Bagas juga merupakan alumni kelas menulis prosa Balai Bahasa Sumatra Utara.
Kontak: 085270932464
Surel :bagas.sengkuni@gmail.com
Medsos: @Kangbagasmahardika
Share This :
FLP Medan

Salam kenal, ini adalah website resmi FLP Medan, sebuah organisasi kepenulisan terbesar yang berasaskan keislaman, kepenulisan, dan keorganisasian.

0 comments